Laman

ZAKAT


Zakat merupakan ibadah maliyah dan ijtima’iyah, yakni ibadah sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan umat manusia.
Dengan semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan kegiatan ekonomi dengan segala macam jenisnya, maka perkembangan pola kegiatan ekonomi saat ini sangat berbeda  dengan corak kehidupan ekonomi di zaman Rasulullah. Tetapi substansinya tetap sama, yakni adanya usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sesuai dengan perkembangan kegiatan ekonomi dan mata pencaharian masyarakat yang terus berkembang, maka jenis-jenis harta yang dizakati juga mengalami perkembangan. Al-Qur’an sebagai kitab suci yang universal dan eternal (abadi), tidak mengajarkan doktrin yang kaku, tetapi memiliki ajaran yang elastis untuk dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan itu terlihat pada jenis-jenis harta yang dizakati.

Validitas dan Goodness Teori Kritis


Goodness suatu teori kritis mencakup:  
Pertama, kemampuan untuk membuat eksplanasi tentang kondisi-kondisi yang tidak seharusnya, seperti adanya “kesadaran palsu”. 
Kedua, kemampuan untuk mengkaitkan ekplanasi tentang kondisi tersebut dengan penjelasan mengenai aksi (atau praxis) yang menjadi persyaratan agar kondisi tertentu bisa diciptakan.  
Ketiga, goodness suatu teori kritis juga ditentukan oleh kemampuan untuk membuat eksplanasi secara holistik, tidak menjelaskan, contohnya, masalah kemiskinan semata-mata sebagai masalah ketidak-mampuan individu, terisolir dari faktor-faktor struktural, distribusi kekuasaan dan sebagainya.

Pembuktian Empirik dalam Teori-teori Kritis


Teori ilmiah” dalam konsepsi positivisme, menuntut konfirmasi empirik, melalui observasi dan eksperimen, dengan menerapkan seperangkat metode-metode tertentu mulai dari metode pengumpulan data, hingga metode analisis; kesemuanya tak jarang disertai pengukuran atau kuantifikasi realitas social yang diteliti. Itu semuaterkait dengan kriteria falsifiability dan testability, yakni apakah suatu teori bisa diturunkan menjadi konsep-konsep atau variabel-variabel yang memungkinkan untuk diuji secara empirik.

Struktur Kognitif dan Objektivitas Teori-teori Kritis

Dimensi tujuan dari teori-teori kritis membantu kita untuk memahami penyimpulan bahwa karakteristik teori-teori sekurangnya mencakup tiga hal:

Pertama, berbeda dengan teori-teori “ilmiah” dalam pengertian tradisional yang cenderung value free, maka teori-teori kritis menonjolkan posisi sebagai “panduan bertindak bagi manusia” dalam arti teori-teori itu (a) bertujuan untuk memproduksi pencerahan dalam diri pelaku sosial, yang lebih lanjut mampu memberdayakan mereka untuk menentukan “kepentingan sejati” mereka, dan (b) secara inherent bersifat emansipatoris, dengan menempatkan diri sebagai pelaku pembebasan dari berbagai bentuk dominasi dan hegemoni.

Tujuan Teori-teori Kritis


Para tokoh Frankfurt School membedakan teori kritis dengan “teori ilmiah” dalam mainstream methodology yang positivistik (atau “tradisional”). Perbedaan tersebut, perlu pula dipahami sebagai kritik teori-teori kritis terhadap positivisme. Perbedaan epistemologis tersebut menciptakan perbedaan mendasar lainnya antara Teori-teori Kritis dengan teori-teori positivistik, yakni perbedaan mengenai tujuan dari teori itu sendiri. “Teori ilmiah”, dalam positivisme atau “traditional science” merupakan bagian dari sistem deduktrif yang antara lain melibatkan suatu proses yang dikenal sebagai hypothetico-deductive method.

Teori Kritis

Teori-teori Kritis pada awalnya merujuk pada serangkaian pemikiran mereka yang tergabung dalam sebuah institut penelitian di Universitas Frankfurt, tahun 1920an, yang kemudian dikenal sebagai Die Frankfurter Schule atau Frankfurt School. Pemikiran mereka banyak memperoleh inspirasi dari, atau didasarkan atas, pemikiran tokoh-tokoh seperti Georg Hegel, Max Weber, Emmanuel Kant, Sigmund Freud, dan terutama sekali – serta tidak bisa dilepaskan dari – konsepsi pemikirab Karl Marx.

Konsep harta

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari manusia saling berinteraksi dalam suatu kegiatan apapun khususnya dalam menjalankan aktivitas bisnis, tentunya dilakukan sebanyak-banyaknya berupa harta.
Sepanjang sejarah kehidupan, harta adalah titik sentral pencaharian manusia dalam hidupnya. Pencarian harta akan terus di lakukan dengan berbagai upaya.

Macam-Macam Hak Lanjutan

      A.  HAK KEBENDAAN DAN HAK BUKAN KEBENDAAN

Hak kebandaan adalah hak yang terkait dengan harta dan kemanfaatannya, hak yang objeknya berupa harta atau manfaat. Seperti menafkahi istrai atas suaminya, hak soarang penjual atas harga barang (uang), hak pembeli atas objek transasi (rumah,mobil), hak penyewa untuk menempati rumah, dan lain nya .
Adapun hak bukan kebendaan adalah hak yang terkait dengan sesuatu selain harta, seperti hak untuk hidup bebas,
Untuk mewujukan cita islam sebagai rahmatan lil alamin, harus dimulai dengan dibangun masyarakat yang kaya akan pemikiran, ilmu pengetahuan dan kaya hati serta mempunyai wawasan yang luas.